Kartini dan Perjuangan Emansipasi Wanita

Kartini dan Perjuangan Emansipasi Wanita – Mungkin banyak diantara kita yang lupa ada apa di tanggal 21 April ini. Hari ini adalah tepat 136 tahun lahirnya tokoh emansipasi wanita di Indonesia yang memandang pentingnya kesamaan gender dalam segala bidang.

Ya, Raden Ajeng Kartini, seorang wanita keturunan bangsawan jawa lahir di Jepara tanggak 21 april 1879.

Kartini adalah pahlawan nasional Indonesia yang sangat berpengaruh lewat pemikiran dan tulisannya yang membangkitkan semangat para wanita untuk bisa memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Beliau meningal di Rembang tanggal 17 september 1904 pada umurnya yang terbilang masih sangat muda, yaitu 25 tahun.

Kartini terlahir dari lingkungan yang terhormat dan bangsawan. Ayahnya adalah seorang bupati sejak kartini dilahirkan, yaitu Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat.

Walaupun ibu kartini adalah istri pertama, namun tidak menjadikan ibunya sebagai orang yang berada di sisi ayahnya. Hal ini dikarenakan ibunya, M.A. Ngasirah bukan merupakan keturunan dari seoorang bangsawan dan pada saat itu, aturan Kolonial Belanda menyebutkan bahwa seseorang dapat menjadi bupati jika memiliki seorang istri dari kalalngan bangsawan juga.

Untuk itu ayahnya yang juga mempunyai hubungan darah dengan Sultan Hamengkubuwana VI menikahi Raden Adjeng Woerjan yang merupakan wanita keturunan Raja Madura dan membuatnya menjadi bupati Jepara menggantikan R.A.A. Tjitrowikromo.

Kartini merupakan anak perempuan yang tertua di keluarganya. Dia adalah anak kelima dari sebelas saudara baik merupakan saudara kandung maupun saudara tiri. Kakeknya merupakan orang yang sangat terpandang di Jepara.

Bahkan kakeknya sudah menjadi bupati sejak usianya 25 tahun dan selalu menanamkan budaya dan pendidikan barat ke seluruh anaknya.

Untuk itu, tidak heran Kartini dapat menguasai bahasa Belanda dan memiliki kesempatan untuk bersekolah di ELS yang pada saat itu hanya golongan tertentulah yang bisa bersekolah. Namun karena kebudayaan Jawa yang kental saat itu, kartini hanya menempuh sekolah sampai umur 12 tahun dan dipingit oleh orangtuanya.

Kemahirannya dalam berbahasa Belanda membuat dia tertarik untuk belajar dan berkirim surat dengan rekannya di Belanda. Kartini sangat tertarik dengan kehidupan wanita di Belanda dan emansipasi yang dilakukan disana hingga ada suatu keinginan yang besar untuk mewujudkannya di Indonesia.

Dia selalu berkirim surat dengan sahabatnya, Rosa Abendanon yang juga sangat tertarik dengan pemikiran kartini terkait perjuangan wanita di Indonesia dan peningkatan status sosial wanita Indonesia.

Kartini pun aktif membaca buku-buku Belanda dalam berbagai topik. Sebut saja buku terkait kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan surat kabar yang keseluruhannya merupakan bahasa Belanda.

Adapun surat kabar De Locomootief, De Hollandsche Lelie, dan lainnya yang sangat sering dia baca.dia membaca apa saja informasi yang ada dan terkadang membuat ulasan-ulasan menarik terkait tulisan tersebut.

Bahkan tulisannya sempat dimuat di dalam majalah De Hollandsche Lelie yang banyak berfokus tentang emansipasi wanita dan permasalahan sosial yang umum.

Adapun buku-buku yang menjadi inspirasinya adalah Max Havelaar, Surat-Surat Cinta, dan banyak roman feminis karya Goekoop de-Jong Van Beek. Kartini menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih yang saat itu telah mempunyai tiga istri dan menikah pada tanggal 12 November 1903.

Untuk mewujudkan upaya emansipasi wanitanya dia mendirikan sekolah wanita di Rembang atas izin dari suaminya. Selain itu, banyak juga karyanya yang sangat menginspirasi dan dijadikan tulisan.

Sebut saja buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang sudah dicetak dalam berbagai bahasa sebagai ungkapan penuntutan hak wanita yang harus dipenuhi

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Kumpulan Resep dan cara membuat Makanan © 2015 Frontier Theme